Breaking News rq center
Tampilkan postingan dengan label Do'a. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Do'a. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2016

Catatan Malam Ke-8 Ramadhan : Perbedaan antara Orang Lalai dengan Orang yang Terjaga

Catatan Malam Ke-8 Ramadhan 1437 H


Dayah Raudhatul Qur'an- Pada malam ini tanggal 12 Juni 2016 yang menjadi catatan penting dalam ceramah Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA, yang perlu kita ketahui adalah: 

"Ahlul yaqdhah yukhalifu Ahlal ghaflah"
Yaitu orang-orang yang terjaga berbeda dengan orang-orang yang lalai

Jika setiap kebiasaan orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) dianggap sebagai ibadah maka sangat jauh berbeda dengan kebiasaan orang yang lalai (ahlu ghaflah) yang dianggap hanya sebuah adat atau sebatas kebiasaan.

Di antara kebiasaan-kebiasaan orang yang terjaga dengan orang yang lalai:

1. Dalam bab makan dan minum
Orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) menganggap makan dan minum adalah sebuah nikmat yang diberikan oleh Allah dan selalu mensyukuri terhadap nikmat tersebut serta mereka tidak makan berlebih-lebihan, mereka selalu berpedoman kepada firman Allah:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ المُسْرِفِينَ

Artinya: "Makan dan minumlah kamu dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-'Araf 31)

Catatan Malam Ke-8 Ramadhan : Perbedaan antara Orang Lalai dengan Orang yang Terjaga oleh Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA
Sedangkan orang yang lalai (ahlu ghaflah) menganggap makan dan minumnya hanya sebatas penghilang lapar dan dahaga, mereka akan makan dan minum secara berlebih-lebihan hingga puas. Dan hal ini sangat sering kita jumpai sekarang ini ketika  berbuka puasa banyak orang langsung menyikat habis semua menu berbuka yang terhidang di dapannya hingga tidak sanggup lagi untuk melaksanakan ibadah salat tarawih.

2. Dalam bab tidur
Tidurnya orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) sebagai bentuk syukur kepada Allah mereka masih diberikan waktu untuk beristirahat  dan sebagai pengingat mati hingga menjadikan tidur mereka ibadah, sebagaimana firman Allah:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
ِ
Artinya: "Dialah yang menjadikan malam bagimu untuk  beristirahat, dan menjadikan siang terang benderang agar kamu mencari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar." (QS. Yunus : 67)

Di setiap awal tidur mereka selalu membaca
بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِن أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْ سَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحيْنَ

Sedangkan orang yang lalai (ahlu ghaflah) hanya menganggap tidur sebatas rutinitas kebiasaan harian saja tanpa merenungi apa makna dibalik tidur mereka.

3. Kebiasaan Berbicara
Perkataan yang keluar dari mulut orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) selalu bernilai, dimana mereka selalu berzikir mengingat Allah, tidak berkata kecuali yang baik-baik.

Sedangkan orang yang lalai (ahlu ghaflah) di setiap perkataannya selalu mengandung dosa, hingga tak jarang kita jumpai orang yang telah banyak sekali berbicara terbawa hingga dalam tidur berbicara. inilah penyabab dari kelalaian seseorang tersebut.

4. Mengunjungi Orang Sakit
Orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) meyakini kunjungan terhadap orang sakit adalah sebagai ibadah yang apabila dilakukan dengan ikhlas dan memberikan hiburan dan kesejukan kepada orang sakit tersebut maka pahalanya adalah surga. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

عَائِدُ الْمَرِيْضِ فِيْ مَخْرَفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya:"Orang yang menjenguk orang sakit berada dalam kebun surga sampai dia pulang."

Sedangkan orang yang lalai (ahlu ghaflah) hanya menjenguk orang sakit dikarenakan merasa tidak enak dengan orang tersebut, mungkin keluarga, sahabat atau masyarakat sekampung. Atau menganggap sebagai belas kasihan, kalau kita hari ini menjenguknya nanti pasti dia juga akan menjenguk kita ketika sakit.

5. Birrul Walidaini (Berbuat baik dengan Orang Tua)
Orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) selalu melakukan silaturrahmi dengan orang tuanya, selalu berbuat baik terhadap orang tuanya. Dia meyakini ketika dia sudah berkeluarga pulang untuk menemui orang tunya adalah sebagai perintah Allah, bukan sekedar rutinitas mudik setiap tahun.

Adapun orang yang lalai (ahlu ghaflah) menganggap silaturrahminya dengan orang tua hanya sebatas kebiasaan setiap tahun  atau hanya karena ingin menikmati liburan karena kesibukan kerja setiap hari.

6. Kasbul Rizki (Mencari Rizki)
Orang yang terjaga (ahlu yaqdhah) selalu sadar bahwa rizki halal yang dia cari setiap harinya adalah semata-mata karena Allah di samping bentuk pengabdian dan tanggung jawabnya terhadap keluarga. sehingga setiap keringat yang keluar akibat kerja menjadikan dia pahala yang berlipat ganda. Karena dia sadar bahwa makanan yang sangat utama (afdhal) adalah makanan dari hasil keringat sendiri. Sehingga rizki yang dia cari tersebut membawa keberkahan kepada keluarganya.

Sedangkan orang yang lalai (ahlu ghaflah) hanya menganggap mencari rizki tersebut hanya sebatas tanggung jawabnya terhadap keluarga. Coba jika kita menganggap setiap pemberian kita kepada keluarga adalah sedekah pasti itu akan sangat bernilai.

Wallahu'alam.

Read more ...

Sabtu, 11 Juni 2016

Catatan Malam Ke-5 Ramadhan : Melawan Nafsu

Catatan Malam Ke-5 Ramadhan 1437 H

Catatan Malam Ke-5 Ramadhan : Melawan Nafsu

Dayah Raudhatul Qur'an- Pada malam ini Jum'at 09 Juni 2015 Pimpinan Dayah Raudhatu Qur'an Darussalam Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA mengajarkan para jama'ah doa untuk melawan nafsu, berikut doanya:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Artinya: "Ya Allah karuniakan ketaqwaan pada jiwaku, sucikanlah dia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkaulah Yang Menjaga serta Melindunginya. 

Beliau mengharapkan doa tersebut untuk diperbanyak membacanya karena melawan nafsu itu sangat susah, bahkan berapa banyak dari kita tidak bisa mengendalikan nafsu selama bulan Ramadhan ini.

Catatan Nafsu

Ketika Allah bertanya kepada nafsu, siapa engkau dan siapa saya?, lalu nafsu pun menjawab saya ya saya dan engkau engkau, lalu Allah pun melempar nafsu dan dibakar selama 300 tahun, kemudian Allah menanyakan kembali pertanyaan yang sama, tetapi jawaban nafsu tetap sama saya saya engkau engkau, lalu Allah lempar kembali dan dibakar selama 300 tahun, setelah 300 tahun lamanya Allah membakar nafsu itu, kembali pertanyaan yang sama Allah lemparkan kepada nafsu, kemudian barulah nafsu menjawab engkau adalah Allah dan saya adalah makhluk.

Begitu kerasnya nafsu hingga beberapa kali Allah menanyakan tentang siapa nafsu dan siapa Allah. Nafsu sangat susah dikendalikan, hingga maksiat itu penyebabnya adalah menuruti hawa nafsu.

Maka oleh sebab itu, haruslah kita sering-sering membaca doa di atas agar kita bisa mengarahkan dan mengendalikan nafsu kita dengan baik.
Wallahu 'alam

Baca juga: https://dayahrqcenter.blogspot.de/2016/06/catatan-malam-ke-4-ramadhan-rahmah-kasih-sayang.html


Read more ...

Senin, 06 Juni 2016

Catatan Malam Ke-2 Ramadhan : 4 Amalan yang Sangat Dicintai Allah dan Selalu Diamalkan oleh Rasul

Catatan Malam ke-2 Ramadhan 1437 H

Catatan Malam Ke-2 Ramadhan : 4 Amalan yang Sangat Dicintai Allah dan Selalu Diamalkan oleh Rasul Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA

Dayah Raudhatul Qur'an- Malam ke-2 bulan Ramadhan ini Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA dalam ceramahnya menyampaikan ada 4 amalan yang sangat dicintai oleh Allah dan selalu diamalkan oleh para rasul.

1. Istighfar
Sudah sepatutnya kita sebagai hamba yang tidak luput dari dosa-dosa untuk selalu memperbanyak membaca istighfar, karena inilah bentuk pengakuan kita bahwa kita banyak salah dan mau bertaubat. Nabi saja yang sudah dianggap "ma'sum" tidak kurang dari seratus kali membaca istighfar setiap hari. Bahasa Istighfar sangat banyak yang bisa kita ucapkan bahkan Nabi telah banyak mengajarkan bahasa-bahasa istighfar yang sangat besar pahalanya. Dari kalimat istighfar  sederhana "Astaghfirullahal 'adhim" hingga ada yang namanya "Sayyidul Istighfar" seperti yang selalu diamalkan oleh Nabi yaitu: 
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Artinya: “Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang patut disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang telah mencitptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan diatas ikatan janji-Mu yang aku jalankan semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari segala perbuatan jelek yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka Ampunilah aku, Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau.”
Fadhillah Membaca Sayyidul Istighfar
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang mengucapkannya (sayyidul istighfar) pada siang hari dan meyakininya (ampunannya akan diterima oleh Allah), kemudian dia mati pada hari itu sebelum waktu sore maka dia termasuk golongan penghuni surga, dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, kemudian dia mati sebelum waktu pagi tiba maka dia termasuk golongan penguhuni surga.”
2. Kalimat tauhid "Lailahaillallah"
Memperbanyak kalimat tauhid juga merupakan bagian dari mengesakan Allah, sangat banyak ayat dan hadits yang bercerita tentang keagungan dan fadhillah kalimat "Lailahaillallah" tersebut. Zikir "Lailahaillallah" jauh lebih bermakna apabila kita mampu menghidupkan hati dengan "nafi-istbat" yaitu menafikan seluruh "illah" dan mengistbatkan Allah. 

2 amalan lagi yang sangat dicintai Allah dan kita sebagai hamba juga sangat butuh yaitu:

3. Memohon Surga-Nya
4. Minta Lindung dari Api Neraka
2 amalan ini sangat dicintai oleh Allah dan kita juga sangat butuh kepadanya, maka janganlah segan-segan untuk selalu berdoa meminta surganya Allah dan memohon lindung dari api neraka yang tidak ada perlindungan kecuali dari Allah SWT. Di antara doa yang diajarkan Nabi kepada kita adalah:


اللهم إنا نسألك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار

Artinya: "Ya Allah sesungguhnya kami memohon keridhaan dan surga-Mu, dan kami berlindung  dari murka-Mu dan api neraka".



Read more ...

Jumat, 12 Juni 2015

Doa Ketika Menghadapi Pekerjaan yang Tidak Ada Pilihan


Doa Ketika Menghadapi Pekerjaan yang Tidak Ada Pilihan


بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم  كن  وجهتي  في  كل جهة  ومقصدي  في  كل  قصد  وغايتي  في  كل سعي  وملجائي  في  كل شدة  وهم  ووكيلي  في كل  أمر  وتولني  تولي محبة  وعناية  في  كل حال  يارحم  الراحمين



Artinya:
“Ya Allah Engkau  selalu di depanku setiap langkah yang aku tuju,  Engkau   menjadi tujuanku pada segala rencanaku,  Engkau  menjadi harapku dalam segala usahaku, Engkau  yang menyelasaikan masalahku dalam segala kesulitan dan kegundahan, Engkau  wakilku dalam segala kepayahan, Engkau yang mengarahkan hidupku dengan penuh kasih sayang dan pertolonganMu  ya  Ar- hamarrahimin”
Read more ...

PROFIL KEPEGURUSAN OSDA DAYAH RAUDHATUL QUR'AN

Designed By